Permalink
Kamis, 10 Mei 2012
hampir satu bulan aku di sini, belum pernah sekalipun aku lihat Papandayan dengan jelas. entah itu karena tertutup kabut, awan, ataupun karena memang sudah gelap. Cikuray, sudah beberapa kali aku lihat dengan jelas dan semuanya siang dan sore hari tapi pagi itu, jalan dari camp 8.30 wib dan bertempat di dalam Elf menuju kota Garut, aku melihat keduanya dengan jelas, Cikuray dan Papandayan. Cikuray dengan bentuk kerucutnya sedangkan Papandayan yang seperti penggungan panjang, aku melihat jelas puncak keduanya.
moment itu sepertinya akan sulit sekali untuk dilupakan. karena moment itu bertepatan dengan kepulangan ku ke jakarta setelah pada sekitar pkl 7.30 wib Iboe ku sambil menangis di ujung telepon sana mengabarkan kalau nenek sudah “tidak ada”. Salah satu wanita tercantik dalam hidup ku sudah dipanggil oleh-Nya.
Perjalananku dari Garut menuju jakarta relatif lancar. sekitar pkl 10.00 dari Garut kira-kira pkl 15.00 kurang sudah sampai Ps. Rebo. lalu aku coba menggunakan angkot menuju Stasiun Tj Barat dari situ aku berpindah menggunakan taksi menuju tebet yang tumben-tumbennya tidak macet dari volvo Ps Minggu menuju Pancoran. kelancaran perjalanan ku pulang juga terjadi pada proses dikebumikannya nenek. segala urusan administrasi sampai ijin tempat peristirahatannya di TPU Menteng Pulo berjalan dengan lancar. satu hal yang baru ketahui dan ternyata ini boleh dilakukan bahwa nenek ku di kebumikan di lubang yang sama dengan suaminya. -tak terbiasa dengan kata kakek karena dia telah meninggal sebelum aku lahir- aku tau ini bukan waktu tepat tapi pada saat itu aku berpikir “itu baru namanya romantis!”. semua kejadian-kejadian itu aku dapatkan dari cerita bapakku karena ketika aku sampai beliau telah dikebumikan ba’da Dzuhur.
Nenek ku memang sudah lama sakit. aku sudah pernah menulis tentang kondisi beliau sebelumnya di sini. walaupun sudah jauh lebih baik dari saat itu namun kondisi kesehatannya tidak pernah fit 100 %. ketika bapakku di operasi dan berada di rumah sakit untuk masa perawatan paska operasi, nenek ku pun tidak menjenguknya di rs karena sadar bahwa dia tidak punya kondisi yang prima untuk itu. aku ingat ketika aku tanyakan itu pas ayah ku baru dipindahkan dari ruang icu menuju ruang hcu aku disuruh pulang karena aku disuruh istirahat karena sudah menginap beberapa hari di rs. ketika perjalanan pulang aku berniat mampir sebentar di tebet untuk menghindari macet jumat malam dan tentu saja bertemu dengan beliau. namun aku berakhir di tempat tidur beliau. menanyakan hal tersebut, bercerita tentang kondisi ayahku apa yang ku lakukan di sumbawa dsb sampai akhirnya aku terlelap di samping beliau malam itu.
Ya, kamar itu banyak meninggalkan kenangan indah diriku bersama beliau. cerita tentang petualangan ku ke beberapa gunung lalu tentang pekerjaanku. aku juga sempat cerita tentang wanita yang aku temui di kereta ketika aku berkerja di Bogor, cerita yang tidak pernah aku ceritakan kepada Iboe dan bapak ku atau pada kakakku sekalipun. Di Kamar itupun tempat dimana muncul rencana-rencana kita untuk jalan-jalan. dari bandung, singapore sampai ke arab. aku ingat ketika membicarakan singapore sempat membuat shock tante ku, karena alasan ke sana adalah untuk menghadiri perkawinan ku. karena aku berpikir aku akan menikahi wanita yang (mungkin) berbeda agama dengan ku. dengan melihat background keluarga kami dengan akar islam yang kuat tentu ini membuat kaget tante ku yang ada di kamar itu pada saat itu tetapi tidak dengan beliau. beliau hanya tersenyum saat itu entah karena berpikir aku hanya bercanda -ya karena kita memang bercanda setiap saat ketika kita bersama- atau memang karena memang dia percaya pada ku dan tidak mau mencampuri urusan yang satu ini. untuk seseorang guru ngaji yang sangat dihormati oleh anak buah ngajinya yang sekarang juga sudah menjadi guru ngaji nenekku tergolong moderat. dia sempet agak kesel ketika Gus Dur mendukung Inul ketika banyak diprotes oleh MUI dan Rhoma Irama tapi di sisi lain dia tidak mempermasalahkan ketika cucu pertamanya (kakakku) beberapa kali mengganti warna rambutnya. satu hutang ku yang aku tidak pernah akan lunasi ke beliau adalah mengajaknya ke Bandung untuk makan, belanja dan menginap di sana. janji yang tidak bisa terwujud karena faktor kesehatan beliau yang tidak kunjung prima untuk diajak melakukan perjalanan darat menggunakan mobil.
Satu yang tidak pernah aku lupa adalah ketika bapakku keluar dari RS dan menjalankan terapinya dengan berobat jalan. di saat itu lah beliau masuk ke rumah sakit dan sejak itu kesehatannya tidak akan pernah sama lagi. ketika beliau sudah diperbolehkan pulang dari RS pun kondisi juga sudah tidak sehat benar namun sudah bisa pulang, hingga pada saat beliau mulai merasakan kembali sakit pada perutnya seperti yang pernah aku ceritakan sebelumnya. hingga pada suatu hari menjelang keberangkatan ku aku menyempat diri ke tebet dan aku coba menuju kamarnya, saat itu beliau sedang tidur dan aku coba mengusap tangannya yang sudah mulai keriput entah karena itu atau hal lain dia terbangun. dengan mata menerawang dan mengeluarkan air dia melihatku dan aku terkaget karena pada saat itu beliau tidak mengenal ku dan beliau juga sempet menanyakan siapa diriku dan aku jawab “ini eza” dia tetap tak mengenalinya. saat itu aku berpikir karena mungkin aku berbicara dengan pelan makannya dia tidak mengenali diriku. lalu aku coba membuatnya tertidur kembali karena aku tau dia akan merasa kesakitan apabila dia tidak tertidur. sejak saat itulah dia sudah “not being herself anymore” sampai keberangkatan ku 11 april menuju kota ini. sejak tanggal itu aku hanya bisa bertanya kondisi beliau via telepone saja. setiap aku tanyakan kondisi pada iboe ku, iboe selalu menjawab “ya gitu deh, masih aduh-aduh. kita doakan saja yah Le nenek diberi jalan supaya lancar” . Sempat pada satu hari kami menjenguk beliau setelah pulang sehabis dirawat di RS Agung setelah melakukan terapi di RSCM, ketika ingin pamit pulang dengan beliau, ayah ku dan nenek ku berkata “kita lagi sama-sama sakit, kita sama-sama mendoakan yah” entah kenapa kalimat itu terdengar magis bagi ku dan selalu ku ingat.
ketika aku sampai tebet aku sempat menanyakan pada tante ku yang mengurusi beliau ketika beliau berada di sisinya pada saat terakhirnya. apakah nenek menyinggung tentang diri ku . tante ku menjawab tidak secara khusus namun dia sempet memberi tahu pada beliau klo sekarang aku udah kerja lagi dan di kirim ke hutan lagi dan nenekku merespon “ya ampun si reza, mudah-mudahan selalu dilindungi dan diberi kesehatan sama Allah”. memang melalui iboe ku, nenek sering melarang ku untuk pergi ke gunung, kerja di hutan atau pun kerja jauh dari jakarta tapi dia tidak pernah mengatakan langsung ketika kita bersama, malah beliau menanyakan pertanyaan yang itu lagi itu lagi “ngapain aja sih kerjaannya klo lagi di gunung/hutan gitu?” beliau selalu menanyakan itu namun tidak pernah melarang cucunya ini. pada kesempatan itu juga aku menanyakan ada kah “tanda-tanda” belakangan ini dan tante ku bilang bahwa biasanya beliau klo malam kan selalu sakit perutnya dan setiap beliau mengucapkan “ya Robbana ya robbana” berarti dia lagi caper. pada saat malemnya entah kenapa dia anteng, ga manggil-manggil, diem aja dan karena itu dia tertidur. hingga saat dia terbangun dengan mata nya berair seperti menangis lalu dia mengucapkan “maafin ibu yah?!” pada tante ku dan dia menjawab “iya Buu” sambil menusap air matanya setelah itu dia memejamkan matanya dan pada saat itulah tante ku memanggil adiknya (tante ku yang lain) untuk mencari bantuan lalu mencoba memanggil tetangga yang kebetulan seorang dokter dan pada pkl 07.00 wib. nenek ku dinyatakan sudah tiada.
pada hari itu ingin sekali aku bertemu dengan beliau untuk terakhir kalinya, ingin sekali menciumnya untuk yang terakhir kali. memang perjalanan ku lancar, malah tergolong cepat namun tetap saja beliau sudah dikebumikan. akhirnya aku gunakan waktu untuk bertemu dengan ke 12 anaknya, yang pertama kali kutemukan adalah anak kedua yang merupakan tante ku yang paling dekat dan bertanggung jawab atas almarhum nenekku ketika sakit. lalu ketemui om-om ku dan tante-tante ku yang lain dan yang pasti anak pertamanya yang juga adalah iboeku. klo dilihat dari wajah-wajah mereka terlihat sekali sangat sedih tapi bukan sedih karena terpurukan lebih kepada sedih karena ditinggalkan yang disisi lain juga terlihat terdapat kelegaan. kelegaan terlepas dari rasa sakit karena nenekku sudah lama sakit atau pun kesakitan, kelegaan karena ini mungkin jalan terbaik yang diberikan oleh-Nya untuk nenekku, kelegaan karena ini mungkin jawaban dari doa “dimudahkan jalannya”.
Ada satu hal yang menjadi jelas bagi ku dengan adanya peristiwa ini. bahwa besoknya tgl 11 mei adalah perkawinan tante ku (anak yang ke-11). di sela-sela menerima tamu yang ngelayat dan menyiapkan untuk tahlilan pada malam dan 6 malam kedepannya, keluarga juga mempersiapkan perkawinan tante ku tersebut. perkawinan yang mungkin banyak dijadwal ulang dikarenakan fluktuasi kesehatan dari nenek. hal yang menjadi jelas bagiku adalah yang penting itu adalah mereka yang masih hidup. karena itu lah yang masih bisa kita perjuangankan. mungkin lancarnya perjalanan dari garut ke jakarta itu adalah tanda untuk ku ada untuk orangtuaku, om, tante, bahkan sepupu ku. untuk mereka tau bahwa masih ada seseorang yang juga merasa sedih di dalam hatinya dan juga membutuhkan mereka dan untuk siap bersama-sama menghadapi apa yang dibilang “terbaik yang Tuhan berikan” ataupun sesederhana mencoba mengejawantahkan maksud dari kalimat “You’ll Never Walk Alone”
ps: satu hal yang agak aku sesalkan adalah ketika aku pulang pada minggu sebelumnya dan aku tidak sempat menyempatkan untuk datang ke tebet. :(

gardu pandang Merapi, Kaliurang 2003